Realita

Jumat, 14 Januari 2011

GEORG SIMMEL BAPAK SOSIOLOGI INTERAKSIONIS YANG TIDAK DIKENAL

GEORG Simmel lahir di Berlin pada tahun 1858. Dia memiliki ayah seorang pedagang yang yahudi yang kaya, yang kemudian masuk agama kristen, dan meinggl ketika Georg masih ssngat kecil. Hubungan dengan ibunya tidak terlalu dekat.setelah kematian ayahnya dia diasuh oleh teman keluaranya, dan peninggalan kekayaan pengasuhnya membuatnya bertahan dalam gaya hidup borjuis. Walau sepanjang kariernya dia tak pernah memperoleh uang. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu di Universitas Berlin. Sebagai upaya pertamanya untuk menyusun disertasi ditolak dan salah seorang profesornya pernah mengatkan “kami akan banyak membantu jika tak mendorongnya ke arah ini” (Frisby 1984;23).
Meski usaha pertamanya ditolak dia tetap mempertahankan disertasinya, dan memperoleh gelar doktor filsafat di tahun 1881. Dan mulai tahun 1885 dia mengajar disana. Dan muali tahun 1900 dia hanya menjadi “dosen privat” dan dia juga menjadi dosen yang tak digaji yang kehidupan ekonominya tergantung pada mahasiswanya. Dia merupakan dosen yang cemerlang , peka, dan pegetahuannya sangat dalam di pelbagai hal. Hal itu juga yang membuat kuliahnya sangat berhasil banyak yang membayar dan penggemar, karena gaya mengajar yang populer menjadikan banyk kaum elite intelektual menghadiri kuliahnya. Kemudian dia mendapat gelar “Profesor Luar Biasa”, disana. Namun gelar itu hanyalah gelar kehormatan belaka tanpa kompensasi apapun.
Di tahun 1914 dia meniggalkan universitas Berlin untuk menerima gelar profesor penuh di Universitas Strasbourg. Namun malang kehidupan akademisnya yang tersedak oleh perang waktu itu. Kurangnya pengakuan profesionalnya secara resmi tak mengurangi kesenangannya dalam mengajar, yang melahirkan banyak pengagum. Bersama Tonnies dan Weber dia berharap mendirikan perkumpulan German society for Sociology. Weber mengusahakan agar Simmel dipromosikan lebih cepat namun tidak berhasil. Simmel tentu bukan berada diluar lingkungan akademis seperti halnya Comte pada awal abad itu. Namun statusnya berifat marginal. Ada beberapa alasan untuk itu yang salah satunya mengacu pada darah yhudi Simmel, menurut Coser dan Spykmann. Keterpinggiran Simmel paralel dengan fakta Simmel agak kontradiktif dan sebagai pribadi yang membingungkan.
Jika kita kumpulkan keterangan dari teman mahasiswanya di masa itu, kita akan menemukan indikasi mengenai Simmel yang kadang-kadang saling bertentangan. Ada yang melukiskannya sebagai seorang yang tinggi dan ramping, orang lain melukiskannya sebagai seorang yang pendek dan berpenampilan sedih. Dilaporkan penampilannya tak menarik, khas yahudi, tetapi juga sangat cerdas dan ningrat. Dilaporkan pula ia pekerja keras, humoris, dan sangat pandai bicara. Terdengar pula ia sangat pintar (Lukacs, 1991:145), ramah, rapi, tetapi iapun irrasional, kusam dan sembrono (Schnabel, dikutip dalam Poggi, 1993:55).
Semasa dia hidup , Berlin merupakan suatu pusat penting untuk perkembangan berbagai aliran intelektual. Perkembangan intelektual Simmel pasti sangat berhubungan dengan kenyataan bahwa selama hidupnya dia menghadapi aliran-aliran tersebut dan posisi marginalnya memungkinkan puntuk memilih tanpa memihak. Latar belakang Simmel yang kekotaan itu serta status akademisnya pasti yang memberikan kepekaan akan hal-hal halus dan tidak kentara dalam proses sosial yang tercermin dalam tulisannya.
Ia menulis banyak artikel dan bukunya sebagai penyumbang berdirinya sosiologi The Philosophy of Money setelah pecah Perang Dunia 1, perjalanan karier di Strasbourg harus dihentikan karena tempat kuliahnya dijadikan rumah sakit militer dan mahasiswa saat itu ikut beperang. Demikianlah Simmel yang tetap menjadi tokoh marginal di dunia akademis Jerman hingga kematiannya di tahun 1918, dia tak pernah mendapat karier akademis yang normal. Bagaimanapu juga Simmel menatik sejumlah besar mahasiswa di zamannya dan kemasyurannya sebagai seorang sarjana terpelihara bertahun-tahun.

Entri Populer