TEORI MODERNISASI:
BAB II
TEORI MODERNISASI:
PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL
I. PEMBAGIAN KERJA SECARA INTERNASIONAL
Teori-teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa setiap negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimilikinya. Negara-negara di khatulistiwa yang tanahnya subur, mialnya, lebih baik melakukan spesialisasi di bidang produksi pertanian. Sedangkan negara-negara di bagian bumi sebelah utara, yang iklimnya tidak cocok untuk usaha pertanian, sebaiknya melkukan kegiatan produksi di bidang industri. Dalam teoi ini dinyatakan bahwa perdagangan internasional akan menguntungkan semua pihak. Harga barang akan turun dan mencapai titik terendah bila terjadi perdagangan bebas.
II. TEORI MODERNISASI
Teori Pembagian Secara Internasional, yang didasarkan pada TeoriKeuntungan Komparatif yang dimiliki oleh setiap negara, mengakibatkan terjadinya spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang mereka miliki.namun yang terjadi kemudian adalah negara-negara industri menjadi semakin kaya, sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal.
Terhadap kenyataan ini, secara umum terdapat dua kelompok teori. Pertama, teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam negeri negara yang bersangkutan. Teori pertama ini dikenal dengan nama Teori Modernisasi. Kedua, teori yang lebih banyak mempersoalkan faktor eksternal sebagai akibat dar bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya. Teori ini dikenal sebagai Teori Struktural.
1. Teori Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
Dalam teori ini disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekurangan modal. Berdasarkan teori ini, para ahli ekonomi pemabangunan negara-negara dunia ketiga untuk memecahkan persoalan keterbelakangannya adalah dengan mencari tambahan modal, baik dari alam negeri (dengan mengusahakan peningkatan tabungan dalam negeri), maupun luar negeri (melalui penanaman modal dan utang luar negeri).
2. Max Weber: Etika Protestan.
Teori Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya., khususnya nilai agama. Masalah pembangunan yang dibahas oleh Weber adalah tentang peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Kemudian Weber melakukan analisis dan mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utama keberhasilan pembangunan di Eropa Barat dan Amerika Serikat adalah apa yang disebut Etika Protestan. Ajaran ini mengatakan bhawa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Akan tetapi orang yang bersangkutan tidak mengetahuinya. Untuk dapat mengetahuinya, yaitu dengan keberhasilan mereka di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, maka dia alkan masuk surga. Kalu kerjanya selalu gagal di dunia, maka sebaliknya dia akan masuk neraka. Adanya kepercayaan tersebut membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih; artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material, melainkan untuk mengatasi kecemasan nasib mereka kelak. Mereka bekerja keras sebagai pengabdian untuk agama mereka., bukan untuk mengumpulkan harta. Tetapi Weber sendiri mengakui bahwa hal ini kemudian berubah sebaliknya. Etika Protestan inilah yang menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa. Stud Weber ini merupakan salah satu studi pertama yang meneliti hubungan antara agama dan pertumbuhan ekonomi.
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi atau n-Ach.
Dalam teori ini, McClelland menjelaskan bahwa untuk mmbuat suatu pekerjaan dapat berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut. Konsep dalam teori McClelland yang terkenal yakni, the need for achievment, kebutuhan atau dorongan, yang kemudian disingkat dengan simbol n-Ach. Dalam konsep n-Ach, dorongan untuk berprestasi tidak sekedar untuk meraih imbalan material yang besar. Ada kepuasan batin tersendiri kalau dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Imbalan material menjadi faktor sekunder. McClelland mengatakan bahwa apabila dalam sebuah masyarakat ada banyak yang memiliki n-Ach yang tinggi, dapat diharapkan masyarakat tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Menurutnya, tempat yang paling baik untuk menumbuhkan n-Ach adalah di dalam keluarga melalui oang tua.
4. W.W. Rostow: Lima Tahap Pembangunan.
Bagi Rostow pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap pembangunan menurut Rostow:
• Masyarakat tradisional.
Masyarakat masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar ekuasaan manusia. Manusia tunduk kepada alam dan belum bisa menguasai alam. Produksi masih sangat terbatas, begitu juga sifat masyarakatnya sangat statis, dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lambat.
• Prakondisi untuk lepas landas.
Masyarakat tradisional, meskipun sangat lambat, terus bergerak.pada satu titik, dia mencapai prakondisi untuk lepas landas. Biasanya keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dai luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Segala usaha untuk meningkatkan produksi mulai bergerak dalam periode ini.
• Lepas landas.
Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
• Bergerak kekedewasaan.
Setelah lepas landas akan terjadi proses kemajuan yang terus bergerak ke depan, meskipun terkadang terjadi pasang surut. Industri berkembang sangat pesat. Negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global: barang yang duunya diimpor sudah ulai diproduksi sendiri.
• Jaman konsumsi massal yang tinggi.
Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan secara terus menerus.
5. Bert F. Hoselitz: Faktor-faktor Non Ekonomi.
Faktor ekonomi yang disebut Hoselitz sebagai kondisi faktor lingkungan, yang dianggap penting dalam proses pembangunan. Bagi Hoselitz, pembangunan membutuhkan pemasokan dari beberapa unsur:
• Pemasokan modal besar dan perbankan.
Hoselitz menyebutkan bahwa lembaga perbankan lah yang efektif yang bisa menggerakkan tabungan masyarakat dan menyalurkannya ke kegiatan-kegiatan yang produktif.
• Pemasokan tenaga ahli dan terampil.
Tenaga yang dimaksud adalah tenaga kewiaswastaan, adimnistrator profesional, insinyur, ahli ilmu pengetahuan, dan tenaga manajerial yang tangguh. Titk berat Hoselitz adalah pada wiraswasta. Untuk memunculkan wiraswasta diperlukan kebudayaan tertentu, yakni kebudayaan yang beranggapan bahwa mencari kekayaan bukan merupakan hal yang buruk. Sealain itu, menurit Hoselitz, wiraswasta juga daat muncul dari kaum minoritas atau marjinal yang mengalami poses anomie dan kemudian berusaha mengangkat harga diri dan status dengan mencari kekayaan. Mereka menjadi kelompok kaum borjuis yang kemudian menantang masyarakat yang lama.
6. Alex Inkeles dan David H. Smith: Manusia Modern.
Kedua ahli ini menekankan tentang pentingnya manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan. Inkeles menyebutnya sebagai Manusia Modern. Dalm buku Becoming Modern, kedua tokoh ini menyebutkan ciri-ciri manusia modern, yaitu: keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, penya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai alam dan bukan sebaliknya, dsb. Dengan memberikan lingkungan yang tepat, setiap orang bisa diubah menjadi menusia modern seteah dia mencapai usia dewasa. Menurut mereka, pendidikan dalah faktor yang paling efektif untuk mengubah manusia. Kemudian faktor lain yang menentukan yaitu faktor pengalaman kerja di lembaga kerja yang modern.
BAB III
TEORI KETERGANTUNGAN (1):
PARA PENDAHULUNYA
Serba Sedikit Tentang Teori Struktural
Teori struktural merupakan teori yang memakai pendekatan struktural, yaitu pendekatan yang menekankan lingkungan material manusia.lingkungan material dianggap sebagai faktor yang lebih penting daripada keadaan psikologi dan nilai-nilai kemasyarakatan yang ada dalam mempengaruhi tingkah laku manusia.
• Raul Prebisch: Industri Substitusi Impor.
Prebisch mengeluarkan karya yang dianggap sebagai karya pertama dari teori ketergantungan , yang kemudian dikenal sebagai manifesto ECLA. Dalam teori pmbagian kerja ecara internasional, seharusnya kedua belah negara (negara pusat dan negar pinggiran) saling beruntung dan sama-ama kaya. Namun kenyataannya, negara pusat denga industrinya bisa semakin kaya, tetapi negara piggiran dengan pertaniannya semakin terbelakang.
Prebisch menunjuk pada penurunan nilai tukar dari komoditi prtanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibandingkan barang pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian. Dan efisit ini semakin lama semakin besar. Dalam hal ini kemudian berlaku Hukum Engels, yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendapatan justru menurun. Pendapatan yang naik tidak akan menaikkan konsumsi untuk makanan, tetai justru menaikkan konsumsi untuk barang-barang industri.
Karena sebab itulah, kemudian Prebisch menganjurkan supaya negara-negara pertanian melakukan industrialisasi untuk mengatasi keterbelakangannya, dimulai dengan industri substitusi impor. Dilakukan dengan memproduksi sendiri barang-barang yang diimpor oleh negara pertanian perlahan-lahan dengan mengambil kebijakan protekdi untuk menjaga kekuatan industri tersebut sampai dengan benar-benar menjadi industri yang mantap beru kemudian kebijakan proteksi tu dicabut.
• Perdebatan Tentang Imperialisme dan Kolonialisme.
Teori God
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa motivasi utama dari orang–orang Eropa untk mengarungi samudera dan bertualang di negara-negara lain adalah untuk menyebarkan agama, membaptis orang-orang yang masih dianggap barbar, yang masih belum mengenal Tuhan. Dengan demikian mereka akan mendapatkan pahala dari agama mereka.
Teori Glory
Teori Glory menjelaskan bahwa dorongan utama dari imperialisme dan kolonialisme bukan kepentingan agama atau ekonomi, mlainkan kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.
Teori Gold
Teori ini menjelaskan bahwa imperialisme dan kolonialisme terjadi karena motivasi ekonomi.
• Paul Baran: Sentuhan Yang Mematikan dan Kretinisme.
Dalam teorinya secara terang-terangan Baran menolak pendapat Marx yang mengatakan bahwa negara-negara kapitalis maju akan menularkan sistem kapitalismenya ke negara-negara berkembang dan akan mengakibatkan kemajuan di negara-negara berkembang tersebut. Menurutnya, kapitalisme yang ditularkan oleh negara-negara maju adalah kapitalisme jenis lain, yaitu kapitalisme yang terkena penyakit kretinisme, tidak dapat berkembang dan terus saja kerdil. Bukan industrialisasi yang terjadi, tetapi dipertahankannya sektor pertanian.
BAB IV
TEORI KETERGANTUNGAN (2):
INTI PEMIKIRANNYA
Ada 6 pokok yang dianggap menjadi inti pembahasan teori ketergantungan, yakni:
• Pendekatan keseluruhan melawan pendekatan kasus.
• Faktor eksternl melawan faktor internal.
• Analisis ekonomi melawan analisis sosiopolitik.
• Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi kelas.
• Keterbelakangan melawan pembangunan.
• Voluntarisme melawan determinisme.
Ciri-ciri teori ketergantungan:
• Yang menjadi hambatan dari pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional yang terjadi. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan keterbelakangan merupakan faktor eksternal.
• Pemagian kerja internasional ini diuraikan menjadi hubungan antara dua kawasan, ykni pusat dan pinggiran. Terjadi pengalihan surplus dai negara pinggiran ke pusat. Akibat pengalihan surplus in, negara-negara pinggiran kehilangan sumber utamanya yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Surplus ini dipindahkan ke negara-negara pusat. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah prses glbal yang sama. Proses global ini adalah proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan lainnya keterbelakangan.
• Sebagai terapinya, teori ketergantungan menganjurkan pemutusan hubungan dengan kapitaisme dunia, dan mulai mengarahkan dirinya pada pembangunan yang mandiri. Untuk itu, dibutuhkan sebuah politik yang revolusioner, yang bisa melakukan perubahan politik yang radikal. Setelah fktor eksternal ini disingkirkan, diperkirakan pembangunan akan terjadi melaluiproses alamiah yang memang ada di dalam masyarakat negara pinggiran tersebut.
Posted on 1/14/2011 10:07:00 AM by Sociallife and filed under | 0 Comments »
TEORI MODERNISASI:
PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL
I. PEMBAGIAN KERJA SECARA INTERNASIONAL
Teori-teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa setiap negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimilikinya. Negara-negara di khatulistiwa yang tanahnya subur, mialnya, lebih baik melakukan spesialisasi di bidang produksi pertanian. Sedangkan negara-negara di bagian bumi sebelah utara, yang iklimnya tidak cocok untuk usaha pertanian, sebaiknya melkukan kegiatan produksi di bidang industri. Dalam teoi ini dinyatakan bahwa perdagangan internasional akan menguntungkan semua pihak. Harga barang akan turun dan mencapai titik terendah bila terjadi perdagangan bebas.
II. TEORI MODERNISASI
Teori Pembagian Secara Internasional, yang didasarkan pada TeoriKeuntungan Komparatif yang dimiliki oleh setiap negara, mengakibatkan terjadinya spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang mereka miliki.namun yang terjadi kemudian adalah negara-negara industri menjadi semakin kaya, sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal.
Terhadap kenyataan ini, secara umum terdapat dua kelompok teori. Pertama, teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam negeri negara yang bersangkutan. Teori pertama ini dikenal dengan nama Teori Modernisasi. Kedua, teori yang lebih banyak mempersoalkan faktor eksternal sebagai akibat dar bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya. Teori ini dikenal sebagai Teori Struktural.
1. Teori Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
Dalam teori ini disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekurangan modal. Berdasarkan teori ini, para ahli ekonomi pemabangunan negara-negara dunia ketiga untuk memecahkan persoalan keterbelakangannya adalah dengan mencari tambahan modal, baik dari alam negeri (dengan mengusahakan peningkatan tabungan dalam negeri), maupun luar negeri (melalui penanaman modal dan utang luar negeri).
2. Max Weber: Etika Protestan.
Teori Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya., khususnya nilai agama. Masalah pembangunan yang dibahas oleh Weber adalah tentang peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Kemudian Weber melakukan analisis dan mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utama keberhasilan pembangunan di Eropa Barat dan Amerika Serikat adalah apa yang disebut Etika Protestan. Ajaran ini mengatakan bhawa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Akan tetapi orang yang bersangkutan tidak mengetahuinya. Untuk dapat mengetahuinya, yaitu dengan keberhasilan mereka di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, maka dia alkan masuk surga. Kalu kerjanya selalu gagal di dunia, maka sebaliknya dia akan masuk neraka. Adanya kepercayaan tersebut membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih; artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material, melainkan untuk mengatasi kecemasan nasib mereka kelak. Mereka bekerja keras sebagai pengabdian untuk agama mereka., bukan untuk mengumpulkan harta. Tetapi Weber sendiri mengakui bahwa hal ini kemudian berubah sebaliknya. Etika Protestan inilah yang menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa. Stud Weber ini merupakan salah satu studi pertama yang meneliti hubungan antara agama dan pertumbuhan ekonomi.
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi atau n-Ach.
Dalam teori ini, McClelland menjelaskan bahwa untuk mmbuat suatu pekerjaan dapat berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut. Konsep dalam teori McClelland yang terkenal yakni, the need for achievment, kebutuhan atau dorongan, yang kemudian disingkat dengan simbol n-Ach. Dalam konsep n-Ach, dorongan untuk berprestasi tidak sekedar untuk meraih imbalan material yang besar. Ada kepuasan batin tersendiri kalau dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Imbalan material menjadi faktor sekunder. McClelland mengatakan bahwa apabila dalam sebuah masyarakat ada banyak yang memiliki n-Ach yang tinggi, dapat diharapkan masyarakat tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Menurutnya, tempat yang paling baik untuk menumbuhkan n-Ach adalah di dalam keluarga melalui oang tua.
4. W.W. Rostow: Lima Tahap Pembangunan.
Bagi Rostow pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap pembangunan menurut Rostow:
• Masyarakat tradisional.
Masyarakat masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar ekuasaan manusia. Manusia tunduk kepada alam dan belum bisa menguasai alam. Produksi masih sangat terbatas, begitu juga sifat masyarakatnya sangat statis, dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lambat.
• Prakondisi untuk lepas landas.
Masyarakat tradisional, meskipun sangat lambat, terus bergerak.pada satu titik, dia mencapai prakondisi untuk lepas landas. Biasanya keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dai luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Segala usaha untuk meningkatkan produksi mulai bergerak dalam periode ini.
• Lepas landas.
Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
• Bergerak kekedewasaan.
Setelah lepas landas akan terjadi proses kemajuan yang terus bergerak ke depan, meskipun terkadang terjadi pasang surut. Industri berkembang sangat pesat. Negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global: barang yang duunya diimpor sudah ulai diproduksi sendiri.
• Jaman konsumsi massal yang tinggi.
Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan secara terus menerus.
5. Bert F. Hoselitz: Faktor-faktor Non Ekonomi.
Faktor ekonomi yang disebut Hoselitz sebagai kondisi faktor lingkungan, yang dianggap penting dalam proses pembangunan. Bagi Hoselitz, pembangunan membutuhkan pemasokan dari beberapa unsur:
• Pemasokan modal besar dan perbankan.
Hoselitz menyebutkan bahwa lembaga perbankan lah yang efektif yang bisa menggerakkan tabungan masyarakat dan menyalurkannya ke kegiatan-kegiatan yang produktif.
• Pemasokan tenaga ahli dan terampil.
Tenaga yang dimaksud adalah tenaga kewiaswastaan, adimnistrator profesional, insinyur, ahli ilmu pengetahuan, dan tenaga manajerial yang tangguh. Titk berat Hoselitz adalah pada wiraswasta. Untuk memunculkan wiraswasta diperlukan kebudayaan tertentu, yakni kebudayaan yang beranggapan bahwa mencari kekayaan bukan merupakan hal yang buruk. Sealain itu, menurit Hoselitz, wiraswasta juga daat muncul dari kaum minoritas atau marjinal yang mengalami poses anomie dan kemudian berusaha mengangkat harga diri dan status dengan mencari kekayaan. Mereka menjadi kelompok kaum borjuis yang kemudian menantang masyarakat yang lama.
6. Alex Inkeles dan David H. Smith: Manusia Modern.
Kedua ahli ini menekankan tentang pentingnya manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan. Inkeles menyebutnya sebagai Manusia Modern. Dalm buku Becoming Modern, kedua tokoh ini menyebutkan ciri-ciri manusia modern, yaitu: keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, penya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai alam dan bukan sebaliknya, dsb. Dengan memberikan lingkungan yang tepat, setiap orang bisa diubah menjadi menusia modern seteah dia mencapai usia dewasa. Menurut mereka, pendidikan dalah faktor yang paling efektif untuk mengubah manusia. Kemudian faktor lain yang menentukan yaitu faktor pengalaman kerja di lembaga kerja yang modern.
BAB III
TEORI KETERGANTUNGAN (1):
PARA PENDAHULUNYA
Serba Sedikit Tentang Teori Struktural
Teori struktural merupakan teori yang memakai pendekatan struktural, yaitu pendekatan yang menekankan lingkungan material manusia.lingkungan material dianggap sebagai faktor yang lebih penting daripada keadaan psikologi dan nilai-nilai kemasyarakatan yang ada dalam mempengaruhi tingkah laku manusia.
• Raul Prebisch: Industri Substitusi Impor.
Prebisch mengeluarkan karya yang dianggap sebagai karya pertama dari teori ketergantungan , yang kemudian dikenal sebagai manifesto ECLA. Dalam teori pmbagian kerja ecara internasional, seharusnya kedua belah negara (negara pusat dan negar pinggiran) saling beruntung dan sama-ama kaya. Namun kenyataannya, negara pusat denga industrinya bisa semakin kaya, tetapi negara piggiran dengan pertaniannya semakin terbelakang.
Prebisch menunjuk pada penurunan nilai tukar dari komoditi prtanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibandingkan barang pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian. Dan efisit ini semakin lama semakin besar. Dalam hal ini kemudian berlaku Hukum Engels, yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendapatan justru menurun. Pendapatan yang naik tidak akan menaikkan konsumsi untuk makanan, tetai justru menaikkan konsumsi untuk barang-barang industri.
Karena sebab itulah, kemudian Prebisch menganjurkan supaya negara-negara pertanian melakukan industrialisasi untuk mengatasi keterbelakangannya, dimulai dengan industri substitusi impor. Dilakukan dengan memproduksi sendiri barang-barang yang diimpor oleh negara pertanian perlahan-lahan dengan mengambil kebijakan protekdi untuk menjaga kekuatan industri tersebut sampai dengan benar-benar menjadi industri yang mantap beru kemudian kebijakan proteksi tu dicabut.
• Perdebatan Tentang Imperialisme dan Kolonialisme.
Teori God
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa motivasi utama dari orang–orang Eropa untk mengarungi samudera dan bertualang di negara-negara lain adalah untuk menyebarkan agama, membaptis orang-orang yang masih dianggap barbar, yang masih belum mengenal Tuhan. Dengan demikian mereka akan mendapatkan pahala dari agama mereka.
Teori Glory
Teori Glory menjelaskan bahwa dorongan utama dari imperialisme dan kolonialisme bukan kepentingan agama atau ekonomi, mlainkan kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.
Teori Gold
Teori ini menjelaskan bahwa imperialisme dan kolonialisme terjadi karena motivasi ekonomi.
• Paul Baran: Sentuhan Yang Mematikan dan Kretinisme.
Dalam teorinya secara terang-terangan Baran menolak pendapat Marx yang mengatakan bahwa negara-negara kapitalis maju akan menularkan sistem kapitalismenya ke negara-negara berkembang dan akan mengakibatkan kemajuan di negara-negara berkembang tersebut. Menurutnya, kapitalisme yang ditularkan oleh negara-negara maju adalah kapitalisme jenis lain, yaitu kapitalisme yang terkena penyakit kretinisme, tidak dapat berkembang dan terus saja kerdil. Bukan industrialisasi yang terjadi, tetapi dipertahankannya sektor pertanian.
BAB IV
TEORI KETERGANTUNGAN (2):
INTI PEMIKIRANNYA
Ada 6 pokok yang dianggap menjadi inti pembahasan teori ketergantungan, yakni:
• Pendekatan keseluruhan melawan pendekatan kasus.
• Faktor eksternl melawan faktor internal.
• Analisis ekonomi melawan analisis sosiopolitik.
• Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi kelas.
• Keterbelakangan melawan pembangunan.
• Voluntarisme melawan determinisme.
Ciri-ciri teori ketergantungan:
• Yang menjadi hambatan dari pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional yang terjadi. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan keterbelakangan merupakan faktor eksternal.
• Pemagian kerja internasional ini diuraikan menjadi hubungan antara dua kawasan, ykni pusat dan pinggiran. Terjadi pengalihan surplus dai negara pinggiran ke pusat. Akibat pengalihan surplus in, negara-negara pinggiran kehilangan sumber utamanya yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Surplus ini dipindahkan ke negara-negara pusat. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah prses glbal yang sama. Proses global ini adalah proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan lainnya keterbelakangan.
• Sebagai terapinya, teori ketergantungan menganjurkan pemutusan hubungan dengan kapitaisme dunia, dan mulai mengarahkan dirinya pada pembangunan yang mandiri. Untuk itu, dibutuhkan sebuah politik yang revolusioner, yang bisa melakukan perubahan politik yang radikal. Setelah fktor eksternal ini disingkirkan, diperkirakan pembangunan akan terjadi melaluiproses alamiah yang memang ada di dalam masyarakat negara pinggiran tersebut.
