BERAKAR....
Merengkuh nikmat bukan berarti tak mengerti rasa lapar dan haus. Berbakat adalah sesuatu yang menyakitkan jika tak mengetahuinya. Banyak kisah banyak cerita hanya tersisa satu cinta. Mengapa kita tak mengerti dengan adanya orang lain yang jauh lebih tahu tentang hidup. Hiruk pikuk keadaan akan selalu ada dan dating tak tepat waktu. Namun dengan berjalannya waktu dan berubahnya ruang, tak sedikit diantara kita yang tak mengerti tentang ada. Mengapa kita ada, mengapa kita bertanya, mengapa kita mengerti dan mengapa ada anggapan tentang ada. Memang tak sesulit berjalan dalam kegelapan tetapi yang lebih mengakutkan adalah saat akhir perjalanan itu. Dengan adanya manusia yang terus berpikir dari yang memikirkan awal dan akhir dan mereka yang selalu tak menginginkan awal dan akhir. Manusia terlahir dengan batasan yang dibuatnya sendiri atau hanya tahu dari orang lain.
Kemungkinan dalam mencapai sesuatu tentang ada bukanlah soal hisapan jempol yang mungkin hanya berakar pada rotasi biologis. Bersandar pada keadaan, mencoba memecahkan, mendalami apa yang kita kira masih perlu, mengharap sesuatu bukanlah berakar dari keinginan tapi keinginan untuk berharap dan terus mengharapkan keinginan itu tetap ada. Banyak sekali yang dapat manusia ketahui, tapi hanya sedikit yang kita gunakan. Mengapa? Karena keadaan. “keadaan bukan alasan tatapi sebuah ralita diluar kendali kita yang kerap berakar pada niat menyerah dan menyesali.
Pengetahuan yang pada titik tertentu memiliki arti nikmat akan berakhir dengan ketidkapastian tentang ada. Mengapa? Karena pengetahuan bukan berasal dari kita, tapi pengetahuan adalah asal kita. Mari kita amati sekeliling kita, apa banyak hal yang dapat kita “tahu” jawabannya adalah “tahu” itu sendiri adalah hal tersebut. Mengalihkan perhatian pada sesuatu adalah trik untuk mengetahui sesuatu hal yang lain, karena hakekat hal yang lain adalah hal yang kita hadapi. Semua hal tentang ada, bertautan mengisi, menghimpun, menerjemahkan, mendalami, meringkasnya menjadi ada yang sangat realistis.
Mari kita lihat diri kita! Saat menulis ini mungkin terdapat sekitar 5 miliar manusia yang bernafas bersama-sama dimuka bumi. Kehidupan adalah melewati banyak sekali titik untuk menemukan garis yang berakhir pada titik dimana awal kita “ada”. Entah ada berapa jenis manusia berdasarkan “ada” tapi cobalah saya akan menerawang sepanjang saya sudah hidup selama 20 tahun bumi.
Ada manusia yang adalah manusia yang “ada” karena realita, karena keadaan, karena keinginan, karena ketiadaan, karena perhitungan, karena dia tidak tahu, karena tahu, karena mengerti aka nada dan karena manusia memang mengada-ada. Logika selalu akan bertentangan dengan emosi, kehidupan akan selalu terisi dengan fakta dan realita. Perseteruan akan tidak ada artinya karena kita tak pernah tahu ujung dan pangkal itu ada, akan tetapi sudah adalah manusia yang menyerukan tentang awal dan akhir bukan hanya sekedar ketiadaan.
Teruslah berharap akan “ada” dan tentang “ketiadaan” yang lain dan berkelindan dengan logika, emosi, fakta, dan realita. Pada akhirnya kita akan mengerti kalau satu-satunya hal yang membuat kita ada adalah ke-ada-an.
Awal bulan oktober 2009, kos.
