Realita

Jumat, 14 Januari 2011

PERSPEKTIF GLOBAL

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi merupakan salah satu kumpulan partikel-partikel yang kemudian membentuk bulatan yang besar dan akhirnya menjadi Big Home bagi manusia dan mahkluk hidup. Big Partikel ini mempunyai berbagai diversity mulai dari manusia yang dianggap sebagai aktor penting dalam kelangsungan bumi serta flora dan fauna yang mendiami The Big Home ini. Tentu, dari berbagai diversity tersebut benar dikatakan serumah, tetapi rumah tersebut benar-benar besar, belum lagi antar penghuni terperinci menjadi beberapa klasifikasi, ada yang namanya Negara, kota, desa, tumbuh-tumbuhan, hewan dan lain-lain. Negara juga terdiri dari berbagai bangsa. Bangsa merupakan jiwa yang mengandung kehendak bersatu (Le Desir D’etre Ensamble) (Rinan Ernest dalam Depdagri, 2003:9) dengan multyculturalise yang tinggi, contoh Indonesia dan ada juga Negara yang mempunyai multuculturalisme yang rendah contoh Amerika, Malaysia dan lain sebagainya. Tetapi pada dasarnya kita merupakan saudara bahkan sekeluarga yang mendiami The Big Home yaitu Bumi.
Untuk memperlancar dan untuk menjaga hubungan baik antar anggota keluarga yang tak lain adalah Negara-negara, jadi sangat diperlukan interaksi baik yang bernada verbal maupun yang bernada non verbal. Pola interaksi antar Negara sekarang sudah mengalami pada suatu titik yang holistic dengan tanda adanaya globalisasi yang terus berkembang. Unutk tetap menjaga hubungan baik antar Negara dan antar bangsa antar Negara perlu suatu jiwa yang mempunyai nilai bersatu, jangan sampai kenyataan pahit yang dilanda oleh Indonesia juga dialami oleh Negara lain yang tidak lain adalah saudara. Untuk itu perlu semua memahami begitu bermacam-macam bentuk dan arti disekeliling kita dengan perspektif global kita belajar membentuk kepribadian untuk mencapai Global Building yang berhasil.
Untuk mencapai itu perlu upaya atau langka-langkah kongrit baik itu langkah yang mengambil jalan pendidikan, politik, sosial maupun budaya. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini sebagai upaya kami untuk menguak tentang perspektif global ini secara mendasar.

B. Rumusan Masalah
• Bagaimana konsep dasar perspektif global ?
• Apa pengertian perspektif global ?
• Apa tujuan perspektif global ?
• Apa saja elemen-elemen perspektif global ?








BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat dan Konsep Perspektif Global
Untuk memahami lebih lanjut tentang perspektif global perlu untuk memahami beberapa istilah yang berkaitan dengan prspektif global yaitu, Multycultural, global ,globalisasi, Fenomenon The Small World,
1. Multycultural
Dalam kontek kehidupan yang mempunyai nilai diversity sangat tinggi ini, pemahaman yang berdimensi multycultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahankan “egoism”. Haviland mengatakan bahwa multicultural dapat diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan bangsa. Dengan demikian memelihara pluralitasakan mencapai kehidupan yang ramah dan penuh perdamaian. Secara ideal multiculturalisme berarti penolakan terhadap kefanatikan, purbasangka, dan menerima secara baik keanekaragaman yang ada (William A. Haviland, terj 1988:289). Fay (1998:3) mengemukakan bahwa Multyculturalism menunjukan suatu yang krusial dalam dunia kontemporer. Dalam dunia multicultural harus mementingkan adanya berbagai perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dan ada interaksi social diantara mereka.Para multikulturalis memfokuskan pada pemahaman dan hidup bersama dalam kontek social budaya yang berbeda.

2. Global
Menurut kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, menartikan Global dengan “concerning the whole earth”. Sesuatu yang berkaitan dengan dunia, internasional atau seluruh alam jagat raya.
3. Globalisasi
Globalisasi mengandung pengertian proses. Huckle (Miriam Steiner, 1996) menyatakan bahwa globalisasi adalah suatu proses dengan mana kejadian, keputusan dan kegiatan disalah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Ahli lainya Albrow (yaya, 1998) mengemukakan bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses dimana manusai di bumi ini diinkorporasikan ke dalam masyarakat dunia tunggal, masyarakat global.
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang internet public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia hingga muncul istilah The Fenomenon small world. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Tentu saja globaisasi membawa berbagai dampak, ada yang bersifat positif maupun yang negative, sebagaimana yang dikemukakan oleh Tilaar (1998) positifnya munculnya masyarakat Megakompetisi. Negatifnya ancaman bagi budaya local yang akan tergantikan oleh budaya global. Sedang ciri-ciri globalisasi menurut Tilaar adalah adanya pasar bebas, berkembangnya nilai demokrasi, menghormati HAM.
4. Fenomenon The Small World
Fenomenon The Small World merupakan titik kelanjutan dari adanya globalisasi dengan ditandai dengan pesatnya IPTEK. Seakan-akan dunia ini tanpa sekat dan dengan bebas melakukan jejaring social antar penduduk atau individu di Negara satu dengan yang lain.






Contoh eksperimen the small world
Eksperimen The small world terdiri dari beberapa percobaan yang dilakukan oleh Stanley Milgram yang mengamati cara interaksi dan jaringan social yang dilakukan oleh orang Amerika. Eksperimen Milgram berkembang dari keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang probabilitas bahwa dua orang yang dipilih secara acak akan mengenal satu sama lain. Ini adalah salah satu cara memandang masalah dunia kecil. Pandangan alternatif tentang masalah ini adalah untuk membayangkan penduduk sebagai jaringan sosial dan berusaha untuk menemukan pola interaksiatau panjang hubungan pengenalan antara dua node. Percobaan Milgram ini dirancang untuk mengukur panjang jalan hubungan. Eksperimen Milgram dalam budaya popular saat ini dapat diliohat dengan adanya Facebook, Friendster, MySpace, XING, Orkut, Cyworld, Bebo, Twitter dan lain-lain.
5. Pengertian dan Tujuan Perspektif Global
Dari wacana yang sudah dipaparkan diatas jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, jadi dapat disimpulkan bahwa perspektif global adalah suatu pandangan , dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspetif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang terkait dengan isu global. Perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional.
Sadar atau tidak sadar bahwa individu dibentuk dengan pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Perspektif global adalah pendekatan menyeluruh (Holistik) yang menghubungkan masyarakat atau individu dengan dunia. Dengan demikian tujuan dari perspektif global adalah :
a. Mendorong untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah yang berkaitan dengan masalah global.
b. Mendorong untuk memahami multicultural atau lintas budaya
c. Memahami dan mengembangkan makna perspektif global baik dalam kehidupan sehari-hari.



6. Elemen-elemen perspektif global
 Penduduk dunia
merupakan elemen penting yang menjadi subyek utama munculnya isu-isu global.
 Lingkungan
menjadi wadah atau tempat di mana penduduk dunia saling berinteraksi, sehingga muncul isu atau permasalahan global.
 Iptek
sebagai sarana utama dalam mendorong penduduk dunia dalam mengetahui berbagai isu global.
 Pendidikan perspektif global
Untuk memberikan penjelasan lebih rinci mengenai cara pandang terhadap permasalahan global dalam era globalisasi.
7. Pendidikan di era global (Lebih Baik Tidak Sekolah)
Pendidikan dan esensi dari pendidikan merupakan suatu upaya merubah sikap yakni memanusiakan manusia. Sistem persekolahan di negeri ini baru bisa menghasilkan “orang-orang lemah”. Ciri-ciri orang yang lemah adalah rendah daya inisiatif dan kreatifitasnya, rendah daya percaya diri, tidak berdaya dan pada ujungnya tidak sanggup untuk menggapai mandiri. Orang yang lemah akan menggantungkan hidupnya pada yang kuat, bisa orang, bisa barang, perusahaan atau Negara.maka tidak mungkin terelakkan pada saat ada lowongan pekerjaan baik itu swasta maupun negeri, orang-orang lemah ini akan berpondong-pondong, berdesak-desakan untuk mendapat kesempatan memasukan ijazah mereka demi pekerjaan. Ada yang lebih menarik lagi, ketika sebuah pabrik tekstil membuat persyaratan bagi calon karyawan/ti. Mereka disyaratkan untuk berijazah SMA atau yang sederajat, belum menikah bahkan sampai ukuran tinggi badan. Sebagian kecil yang diterima ternyata dipekerjakan dibagaian yang sangat mekanis (benang dan jarum, seleksi produksi, menyeterika, melipat) yang semuanya itu tidak ada relevansinya dengan ijazah mereka. Pekerjaan mekanis seperti itu bisa dilakukan oleh siapa pun yang mau tanpa harus berijazah SMA.
Kalau sekolah hanya melahirkan orang-orang yang lemah dan individualis, yang bersaing tapi selalu ingin menang dan ingin mengungguli yang lain tanpa ada rasa ingin mengingat bahwa kita perlu yang namanya saling mengisi dan memperbaiki, maka sangat mungkin sekali pengangguran terpelajar akan menumpuk dan “membludak” di Indonesia yang indah ini, katanya (Media).
Disisi lain masyarakat tidak butuh yang namanya UU yang hanya indah diucapkan dan didengarkan tetapi butuh riil action dari pemerintah untuk memperbaiki system sekolah yang sangat feodal dan kapitalis, dimana rakyat kecil sangat susah untuk sekolah apalagi kuliah. Karena biaya yang mahal tentunya. Ingin menjadi pengangguran terpelajar kok susah.
Sistem pendidikan era global ini sangat mengebiri dan memangkas habis kreatifitas siswa, sekolah sebagai siksaan yang tak tertahankan dan fungsi guru telah berubah menjadi fungsi pawing yang bisa menekan dan menguasai anak didiknya maka kembalikan pawing itu menjadi guru lagi (Romo YB Mangunwijaya). Ketika ada inovasi yang terjadi bukan seatu perbaikan malah lebih kearah kebingungan, bahkan lebih kontradiktif dengan tataran aplikasinya, maka munculah fenomena bisnis pendidikan di Indonesia.
Diera global ini sekolah hampir tidak member ruang yan cukup untuk berkembangnya potensi individu dan nilai-nilai pluralis. Siswa menjadi objek yang harus dibentuk menurut selera guru. Sekolah telah membuat siswa menjadi bukan dirinya dan terasing dari realitas kehidupan. “sekolah telah menjadi mean Base untuk mengasingkan siswa atau individu dari realitas kehidupan”.
Siswa dituntut untuk mendapat nilai A atau 8 bahkan,9 dan 10 di ijazahnya, maka ini adalah tindakan dan pola pemikiran yang sangat fatal dan Bobrok. Dengan pemikiran diatas maka yang terjadi adalah siswa atau mahasiswa akan bersifat picik, licik, dan cenderung instan.
Diatas merupakan beberapa realitas pendidikan yang berbau feudal dan capitalism. Maka perlu untuk kembali ke esensi awal pendidikan yakni memanusiakan manusia yang berpedoman pada UUD 45 atau norma dan pancasila.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bumi merupakan salah satu kumpulan partikel-partikel yang kemudian membentuk bulatan yang besar dan akhirnya menjadi Big Home bagi manusia dan mahkluk hidup. Untuk memperlancar dan untuk menjaga hubungan baik antar anggota keluarga yang tak lain adalah Negara-negara, jadi sangat diperlukan interaksi baik yang bernada verbal maupun yang bernada non verbal. . Untuk itu perlu semua memahami begitu bermacam-macam bentuk dan arti disekeliling kita dengan perspektif global kita belajar membentuk kepribadian untuk mencapai Global Building yang berhasil.
Selain diatas kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan perspektif global secara mendasar serta bagaimana menumbuhkan kesadaran bumi atau dunia yang begitu luas dan komplek ini dapat menjadi sempit atau telah menjadi sempit dan sederhana disebabkan oleh IPTEK. Untuk memahami lebih lanjut tentang perspektif global perlu untuk memahami beberapa istilah yang berkaitan dengan prspektif global yaitu, Multycultural, global ,globalisasi, Fenomenon The Small World. Dalam kontek kehidupan yang mempunyai nilai diversity sangat tinggi ini, pemahaman yang berdimensi multycultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahankan “egoism”. Haviland mengatakan bahwa multicultural dapat diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan bangsa. Dengan demikian memelihara pluralitasakan mencapai kehidupan yang ramah dan penuh perdamaian.
Sedangkan Global, Menurut kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, menartikan Global dengan “concerning the whole earth”. Sesuatu yang berkaitan dengan dunia, internasional atau seluruh alam jagat raya. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Fenomenon The Small World merupakan titik kelanjutan dari adanya globalisasi dengan ditandai dengan pesatnya IPTEK. Seakan-akan dunia ini tanpa sekat dan dengan bebas melakukan jejaring social antar penduduk atau individu di Negara satu dengan yang lain. Dari wacana yang sudah dipaparkan diatas jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, jadi dapat disimpulkan bahwa perspektif global adalah suatu pandangan , dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspetif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang terkait dengan isu global.
Sadar atau tidak sadar bahwa individu dibentuk dengan pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Perspektif global adalah pendekatan menyeluruh (Holistik) yang menghubungkan masyarakat atau individu dengan dunia. Dengan demikian tujuan dari perspektif global adalah :
a. Mendorong untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah yang berkaitan dengan masalah global.
b. Mendorong untuk memahami multicultural atau lintas budaya
c. Memahami dan mengembangkan makna perspektif global baik dalam kehidupan sehari-hari.



Daftar Pustaka
Hanum, Farida. Rintisan Implementasi Pendidikan Multikultural di sekolah dalam Membangun Perilaku Bangsa. Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar. 2009.Yogyakarta. UNY.
Sujono, Samba.2007. Lebih Baik Tidak Sekolah. LKiS Pelangi Aksara. Yogyakarta.
Sumaatmadja, Nursid dan Wihardit, Kuswaya. 2002. Perspektif Global. Jakarta Universitas terbuka.
www.wikimu.com Selasa, 11-03-2008 14:30:17 oleh: tri darmiyati












PENGERTIAN, TUJUAN, DAN ELEMEN-ELEMEN PERSPEKTIF GLOBAL
Sebagai pelengkap tugas mata kuliah Perspektif Global
Dosen Pengampu : Nur Hidayah, M. Si

Disusun oleh :
1. Tyan Ika Puji 07413244004
2. Ratih Muliana. M 07413244010
3. Joko Fitra 07413244030
4. Febriana Muryanto 07413244032
5. Abid Rosadi 07413244038
6. Fina Kusrini 07413244042

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009

TEORI MODERNISASI:

BAB II
TEORI MODERNISASI:
PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL
I. PEMBAGIAN KERJA SECARA INTERNASIONAL
Teori-teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa setiap negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimilikinya. Negara-negara di khatulistiwa yang tanahnya subur, mialnya, lebih baik melakukan spesialisasi di bidang produksi pertanian. Sedangkan negara-negara di bagian bumi sebelah utara, yang iklimnya tidak cocok untuk usaha pertanian, sebaiknya melkukan kegiatan produksi di bidang industri. Dalam teoi ini dinyatakan bahwa perdagangan internasional akan menguntungkan semua pihak. Harga barang akan turun dan mencapai titik terendah bila terjadi perdagangan bebas.
II. TEORI MODERNISASI
Teori Pembagian Secara Internasional, yang didasarkan pada TeoriKeuntungan Komparatif yang dimiliki oleh setiap negara, mengakibatkan terjadinya spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang mereka miliki.namun yang terjadi kemudian adalah negara-negara industri menjadi semakin kaya, sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal.
Terhadap kenyataan ini, secara umum terdapat dua kelompok teori. Pertama, teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam negeri negara yang bersangkutan. Teori pertama ini dikenal dengan nama Teori Modernisasi. Kedua, teori yang lebih banyak mempersoalkan faktor eksternal sebagai akibat dar bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya. Teori ini dikenal sebagai Teori Struktural.
1. Teori Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
Dalam teori ini disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekurangan modal. Berdasarkan teori ini, para ahli ekonomi pemabangunan negara-negara dunia ketiga untuk memecahkan persoalan keterbelakangannya adalah dengan mencari tambahan modal, baik dari alam negeri (dengan mengusahakan peningkatan tabungan dalam negeri), maupun luar negeri (melalui penanaman modal dan utang luar negeri).
2. Max Weber: Etika Protestan.
Teori Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya., khususnya nilai agama. Masalah pembangunan yang dibahas oleh Weber adalah tentang peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Kemudian Weber melakukan analisis dan mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utama keberhasilan pembangunan di Eropa Barat dan Amerika Serikat adalah apa yang disebut Etika Protestan. Ajaran ini mengatakan bhawa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Akan tetapi orang yang bersangkutan tidak mengetahuinya. Untuk dapat mengetahuinya, yaitu dengan keberhasilan mereka di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, maka dia alkan masuk surga. Kalu kerjanya selalu gagal di dunia, maka sebaliknya dia akan masuk neraka. Adanya kepercayaan tersebut membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih; artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material, melainkan untuk mengatasi kecemasan nasib mereka kelak. Mereka bekerja keras sebagai pengabdian untuk agama mereka., bukan untuk mengumpulkan harta. Tetapi Weber sendiri mengakui bahwa hal ini kemudian berubah sebaliknya. Etika Protestan inilah yang menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa. Stud Weber ini merupakan salah satu studi pertama yang meneliti hubungan antara agama dan pertumbuhan ekonomi.
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi atau n-Ach.
Dalam teori ini, McClelland menjelaskan bahwa untuk mmbuat suatu pekerjaan dapat berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut. Konsep dalam teori McClelland yang terkenal yakni, the need for achievment, kebutuhan atau dorongan, yang kemudian disingkat dengan simbol n-Ach. Dalam konsep n-Ach, dorongan untuk berprestasi tidak sekedar untuk meraih imbalan material yang besar. Ada kepuasan batin tersendiri kalau dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Imbalan material menjadi faktor sekunder. McClelland mengatakan bahwa apabila dalam sebuah masyarakat ada banyak yang memiliki n-Ach yang tinggi, dapat diharapkan masyarakat tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Menurutnya, tempat yang paling baik untuk menumbuhkan n-Ach adalah di dalam keluarga melalui oang tua.
4. W.W. Rostow: Lima Tahap Pembangunan.
Bagi Rostow pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yaitu dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap pembangunan menurut Rostow:
• Masyarakat tradisional.
Masyarakat masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar ekuasaan manusia. Manusia tunduk kepada alam dan belum bisa menguasai alam. Produksi masih sangat terbatas, begitu juga sifat masyarakatnya sangat statis, dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lambat.
• Prakondisi untuk lepas landas.
Masyarakat tradisional, meskipun sangat lambat, terus bergerak.pada satu titik, dia mencapai prakondisi untuk lepas landas. Biasanya keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dai luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Segala usaha untuk meningkatkan produksi mulai bergerak dalam periode ini.
• Lepas landas.
Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
• Bergerak kekedewasaan.
Setelah lepas landas akan terjadi proses kemajuan yang terus bergerak ke depan, meskipun terkadang terjadi pasang surut. Industri berkembang sangat pesat. Negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global: barang yang duunya diimpor sudah ulai diproduksi sendiri.
• Jaman konsumsi massal yang tinggi.
Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan secara terus menerus.
5. Bert F. Hoselitz: Faktor-faktor Non Ekonomi.
Faktor ekonomi yang disebut Hoselitz sebagai kondisi faktor lingkungan, yang dianggap penting dalam proses pembangunan. Bagi Hoselitz, pembangunan membutuhkan pemasokan dari beberapa unsur:
• Pemasokan modal besar dan perbankan.
Hoselitz menyebutkan bahwa lembaga perbankan lah yang efektif yang bisa menggerakkan tabungan masyarakat dan menyalurkannya ke kegiatan-kegiatan yang produktif.
• Pemasokan tenaga ahli dan terampil.
Tenaga yang dimaksud adalah tenaga kewiaswastaan, adimnistrator profesional, insinyur, ahli ilmu pengetahuan, dan tenaga manajerial yang tangguh. Titk berat Hoselitz adalah pada wiraswasta. Untuk memunculkan wiraswasta diperlukan kebudayaan tertentu, yakni kebudayaan yang beranggapan bahwa mencari kekayaan bukan merupakan hal yang buruk. Sealain itu, menurit Hoselitz, wiraswasta juga daat muncul dari kaum minoritas atau marjinal yang mengalami poses anomie dan kemudian berusaha mengangkat harga diri dan status dengan mencari kekayaan. Mereka menjadi kelompok kaum borjuis yang kemudian menantang masyarakat yang lama.
6. Alex Inkeles dan David H. Smith: Manusia Modern.
Kedua ahli ini menekankan tentang pentingnya manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan. Inkeles menyebutnya sebagai Manusia Modern. Dalm buku Becoming Modern, kedua tokoh ini menyebutkan ciri-ciri manusia modern, yaitu: keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, penya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai alam dan bukan sebaliknya, dsb. Dengan memberikan lingkungan yang tepat, setiap orang bisa diubah menjadi menusia modern seteah dia mencapai usia dewasa. Menurut mereka, pendidikan dalah faktor yang paling efektif untuk mengubah manusia. Kemudian faktor lain yang menentukan yaitu faktor pengalaman kerja di lembaga kerja yang modern.
BAB III
TEORI KETERGANTUNGAN (1):
PARA PENDAHULUNYA
Serba Sedikit Tentang Teori Struktural
Teori struktural merupakan teori yang memakai pendekatan struktural, yaitu pendekatan yang menekankan lingkungan material manusia.lingkungan material dianggap sebagai faktor yang lebih penting daripada keadaan psikologi dan nilai-nilai kemasyarakatan yang ada dalam mempengaruhi tingkah laku manusia.
• Raul Prebisch: Industri Substitusi Impor.
Prebisch mengeluarkan karya yang dianggap sebagai karya pertama dari teori ketergantungan , yang kemudian dikenal sebagai manifesto ECLA. Dalam teori pmbagian kerja ecara internasional, seharusnya kedua belah negara (negara pusat dan negar pinggiran) saling beruntung dan sama-ama kaya. Namun kenyataannya, negara pusat denga industrinya bisa semakin kaya, tetapi negara piggiran dengan pertaniannya semakin terbelakang.
Prebisch menunjuk pada penurunan nilai tukar dari komoditi prtanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibandingkan barang pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian. Dan efisit ini semakin lama semakin besar. Dalam hal ini kemudian berlaku Hukum Engels, yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendapatan justru menurun. Pendapatan yang naik tidak akan menaikkan konsumsi untuk makanan, tetai justru menaikkan konsumsi untuk barang-barang industri.
Karena sebab itulah, kemudian Prebisch menganjurkan supaya negara-negara pertanian melakukan industrialisasi untuk mengatasi keterbelakangannya, dimulai dengan industri substitusi impor. Dilakukan dengan memproduksi sendiri barang-barang yang diimpor oleh negara pertanian perlahan-lahan dengan mengambil kebijakan protekdi untuk menjaga kekuatan industri tersebut sampai dengan benar-benar menjadi industri yang mantap beru kemudian kebijakan proteksi tu dicabut.
• Perdebatan Tentang Imperialisme dan Kolonialisme.
Teori God
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa motivasi utama dari orang–orang Eropa untk mengarungi samudera dan bertualang di negara-negara lain adalah untuk menyebarkan agama, membaptis orang-orang yang masih dianggap barbar, yang masih belum mengenal Tuhan. Dengan demikian mereka akan mendapatkan pahala dari agama mereka.
Teori Glory
Teori Glory menjelaskan bahwa dorongan utama dari imperialisme dan kolonialisme bukan kepentingan agama atau ekonomi, mlainkan kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.
Teori Gold
Teori ini menjelaskan bahwa imperialisme dan kolonialisme terjadi karena motivasi ekonomi.
• Paul Baran: Sentuhan Yang Mematikan dan Kretinisme.
Dalam teorinya secara terang-terangan Baran menolak pendapat Marx yang mengatakan bahwa negara-negara kapitalis maju akan menularkan sistem kapitalismenya ke negara-negara berkembang dan akan mengakibatkan kemajuan di negara-negara berkembang tersebut. Menurutnya, kapitalisme yang ditularkan oleh negara-negara maju adalah kapitalisme jenis lain, yaitu kapitalisme yang terkena penyakit kretinisme, tidak dapat berkembang dan terus saja kerdil. Bukan industrialisasi yang terjadi, tetapi dipertahankannya sektor pertanian.
BAB IV
TEORI KETERGANTUNGAN (2):
INTI PEMIKIRANNYA
Ada 6 pokok yang dianggap menjadi inti pembahasan teori ketergantungan, yakni:
• Pendekatan keseluruhan melawan pendekatan kasus.
• Faktor eksternl melawan faktor internal.
• Analisis ekonomi melawan analisis sosiopolitik.
• Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi kelas.
• Keterbelakangan melawan pembangunan.
• Voluntarisme melawan determinisme.
Ciri-ciri teori ketergantungan:
• Yang menjadi hambatan dari pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional yang terjadi. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan keterbelakangan merupakan faktor eksternal.
• Pemagian kerja internasional ini diuraikan menjadi hubungan antara dua kawasan, ykni pusat dan pinggiran. Terjadi pengalihan surplus dai negara pinggiran ke pusat. Akibat pengalihan surplus in, negara-negara pinggiran kehilangan sumber utamanya yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Surplus ini dipindahkan ke negara-negara pusat. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah prses glbal yang sama. Proses global ini adalah proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan lainnya keterbelakangan.
• Sebagai terapinya, teori ketergantungan menganjurkan pemutusan hubungan dengan kapitaisme dunia, dan mulai mengarahkan dirinya pada pembangunan yang mandiri. Untuk itu, dibutuhkan sebuah politik yang revolusioner, yang bisa melakukan perubahan politik yang radikal. Setelah fktor eksternal ini disingkirkan, diperkirakan pembangunan akan terjadi melaluiproses alamiah yang memang ada di dalam masyarakat negara pinggiran tersebut.

PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGI

Sarjana-sarjana Belanda yang meminati Sosiologi dahulu banyak bergelar Sarjana Hukum, dan aspek-aspek Sosiologi juga diajarkan di Fakultas Hukum, mungkin warisan dari periode mempelajari Hukum Adat yang masih diminati. Ini sebabnya mengapa baik di Universitas Indonesia dan di Universitas Gadjah Mada dosen-dosen Indonesia banyak bergelar SH. Seperti misalnya Soelaeman Soemardi, Soekanto, Soetandiyo Wignyo Soebroto, Satjipto Raharjo dan lain-lain.
Pengaruh sosiologi Eropa memang juga menggali dan dari pemikir-pemikir falsafah a.l. Bapak Sosiologi August Comte (1798-1857). Pendekatan yang agak ethno-Antropologis tercermin juga dalam buku E. Durkheim tentang agama, tetapi buku-buku lain seperti mengenai “Pembagian Kerja” (1966) dan “Bunuh Diri” sudah jelas dikarang dalam konteks makro sosiologi. Memang penyebaran theori-theori klasik Sosiologi di Indonesia tidak terlalu luas, nama-nama seperti P. Sorokin, M. Weber, Znaniecki, Marx, Von Wiese, G. Simmel, T. Shanin dan banyak lagi kurang mengisi bahan kuliah para dosen.
Sejak pertengahan 1950-an Indonesia mulai mengirimkan mahasiswa untuk berbagai ilmu sosial keluar negeri, tetapi ada kecenderungan lebih banyak ke Amerika Serikat daripada ke Eropa. Antara lain Soedjito Djojohardjo dikirim ke Inggris, tetapi lebih banyak lagi yang belajar di Amerika dan menghasilkan thesis Ph.D. seperti Prof. Selo Soemardjan, Mely Tan APU, Prof. Hasyah Bachtiar (hanya sebentar di Universitas Amsterdam sebelum ke Harvad) dan lain-lain.
Perlu dipahami bahwa pengembangan dan perkembangan theori yang digubah pakar Sosiologi tidak terlepas dari kejadian-kejadian besar dalam masyarakat dan pengaruh-pengaruhnya kepada pemikir / ilmuwan yang kemudian menerima sejumlah assumsi yang mendasari theori. Demikian keperluan pemerintah jajahan di Hindia Belanda mendorong ilmuwan menelusuri adat kebiasaan suku-suku bangsa di Nusantara. Pengertian yang diperoleh mengarahkan kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga mereka yang dijajah tidak menimbulkan penolakan atau pembangkangan yang terlalu kuat.
Dalam masa 1800-1825, dibawah pengaruh tumbuhnya kaum borjuis di Eropa dan awal industrialisasi yang menimbulkan / menyuburkan “budaya utilitarianisme” sosiologi seakan-akan hanya mempelajari gejala-gejala yang tersisa (unfinished business) dalam perjalanan revolusi industri. A. Gouldner (1973:92) mendeskripsikannya dalam kalimat “Sociology made the residual, Social, Element its sphere”. Jadi ranah sosiologi seakan-akan dipisah dari perkembangan ekonomi dan teknologi.
Baru sekitar pertengahan abad ke-19 sosiologi, ekonomi dan politik (Marx, 1848) mulai difahami sebagai bidang-bidang ilmu yang saling terjalin.
“Sociology thus remains concerned with society as a “whole” as some kind of totality, but it now regards itself as responsible only for one dimension of this totality. Society has been parceled out analytically (Tj. Only) among the various social sciences. From this analytic standpoint, sociology is indeed, concerned with social systems or society as a “whole”, but only as it is a social whole”. (Gouldner, 1973:94)
Theori dalam ilmu sosial pun mencari keteraturan perilaku manusia serta pemahaman dan sikap yang mendasarinya. Karena keadaan masyarakat yang berubah-ubah, pemahaman, sikap dan perilaku warga / pelaku social pun dapat berubah. Memang perubahaan sosial bisa bersifat makro, tetapi juga bisa lebih mikro mencakup kelompok-kelompok masyarakat yang relatif lebih kecil dari satu bangsa, atau kumpulan bangsa-bangsa. Theori juga mengandung sifat universalitas, artinya dapat berlaku di lain masyarakat yang mana saja, walaupun sering dibedakan atara Grand Theory dan theori yang cakupannya tidak seluas itu.
Theori August Comte, Karl Marx dan beberapa theory Max Weber dapat digolongkan ke Grand Theory, sedangkan theori Parson relatif mikro karena melepaskan diri dari kerangka sejarah dan memfokuskan analisnya pada sistem sosial dan struktur, lebih khusus dalam masyarakat Amerika Serikat.
Seorang ahli Sosiologi Alwin Gouldner (1971) yang bersifat kritis dan menulis buku berjudul “The Coming Crisis of Western Sociology” mengungkapkan bahwa Talcott Parsons menghasilkan “Academic Sosiology” dimasa Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang dahsyat (1930), bahkan aliran tersebut kemudian mempengaruhi di luar A.S.
Parsons juga mencoba mencari penyelesaian lebih prgamatis dalam zamannya yang pemikirannya membuahkan theori “Social System”. Ini sebanya theori tesebut juga mempengaruhi pengajaran dan pemahaman sosiologi, yang waktu tahun 1930-an menarik banyak penganut pakar Sosiolog di luar AS. Bahkan sedemikian rupa sehingga menggusur theori-theori sosiologi dalam tradisi Eropa, seperti Max Weber, Karl Mannheim dan lain-lain yang tidak mengesampingkan dimensi falsafah dan sejarah. Jadi boleh dikatakan sosiologi Meso timbul dengan theori Parsons, tetapi dengan mengorbankan faktor “dinamika” (perubahan sosial makro yang ciri Sosiologi Eropa) dengan mengunggulkan “Struktur dan Fungsi”.
Akibat pengaruh Amerika Serikat sebagai negara adidaya setelah 1950 yang terus meluas setelah perang dunia kedua, theori Sosiologi dinegara berkembang pun terpengaruhi, karena menekuni masalah yang tidak melampaui batas “nation state”. Negara-negara baru dengan kesadaran nasional yang tinggi ingin mengatur struktur kelembagaan dalam masyarakat masing-masing.
Sekarang di Indonesia mulai terasa adanya dilemma, karena “nation state” belum mantap sudah timbul Globalisasi yang pasti merubah pengelompokan dan perilaku-perilaku sosial yang lebih universal.

REORIENTASI SOSIOLOGI INDONESIA
Baik lahirnya “nation state” Indonesia di pertengahan abad ke-20 dan pembangunan nasional yang digalakkan selama periode pemerintahan Orde Baru merangsang tumbuhnya theori struktur dan fungsi Parsons. Bukan saja pragmatik (non-dinamika) yang dipentingkan karena tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kurang mengulas perubahan sosial dan konflik. Perubahan struktur sosial yang sebenarnya di Indonesia akan dimulai tahun 1960 dengan mengatur agraria, berhenti tetapi itu (1965) dan kemudian andalannya adalah menumbuhkan klas menengah. Sering dikatakan bahwa klas menengah merupakan prasyarat untuk pertumbuhan demokrasi maupun ekonomi.
Dialektika dalam masyarakat yang mengandung potensi konflik , antara sentralisme politik dan arus kebebasan generasi muda yang tertekan, meletus waktu krisis 1997 dan Reformasi 1998 sampai menggoncangkan sendi-sendi masyarakat.
Gejala-gejala yang sebelumnya latent, sekarang menjadi perhatian Rakyat, dan aneka elite menjadi faktor yang penting dalam usaha mecapai konsensus nasional baru.
Mengingat hal-hal tersebut diatas, terasa bahwa buku P. Sorokin (1928) “Contemporary Sociological Theories” sudah diperluas dengan theori-theori yang sudah lebih mengintegrasikan beberapa cabang ilmu-ilmu sosial.
Pertautan antara aspek-aspek psikologi misalnya dapat ditemukan dalam buku R. Presthus (1962) dan D. Riesman dkk. (1961). [1]
K. Boulding (1962) seorang guru besar ekonomi menambahkan teori konflik dan memperkaya theori klasik terdahulu (Marx, Simel, Coser). [2]
Erat pula kaitannya dengan gejala-gejala yang kita alami sejak Reformasi 1998 adalah buku-buku C. Wright MILLS (2959 dan 1963). [3]
[1] Roberth Presthus (1962). “ The Organizational Society; An Analysis and a Theory” New York, random House.
David RIESMAN, dkk. (1961) “The Lonely Crowd.” New Haven, Yale University Press
[2] Kenneth BOULDING (1962). “ Conflict and Defensel; A General Theory”. New York, Harper Torchbooks.
[3] C. Wright Mills (1959). “The Power Elite”. New York, Oxford Univ. Press.
________ (1963). “Power Politics and People.” London, Oxford Univ. Press.
Analisa-analisa pakar-pakar tersebut diatas menunjukkan pentingnya dinamika sosial dalam masyarakat modern yang lebih memperkaya imajinasi sosiologi kita. Jadi di Amerika Serikat setelah T. Parsons timbul mazhab-mazhab Sosiologi muda yang lebih memahami pentingnya gejala perubahan dan konflik sosial, yang pada hemat penulis lebih merupakan warisan dari tradisi Sosiologi Eropa.
Ini dibenarkan oleh a. Gouldner yang menulis dan menyimpulkan bahwa “Academic Sociology semakin terjalin dengan analisa K. Marx, sehingga di Amerika misalnya menimbulkan gerakan “New Left” menentang Establishment atau di Eropa (Jerman) “Tentara Merah” dengan tokoh muda Beader Meinhof. Mungkin P.R.D di Indonesia dapat diketegorikan dalam pemberontakan generasi muda seperti itu, yang sudah jenuh dengan elite Orde Baru di Jepang pun ada gerakan-gerakan serupa.
Pemberontakan menentang tradisi dan pemikiran generasi “arrive” yang kolot oleh generasi muda selalu akan timbul dalam masyarakat manusia sebagai terjadi tahun 1945, sebentar di tahun 1965 dan dewasa ini sejak tahun 1998. Dalam arti yang lebih murni memang paradigma yang umum dianut sarjana Sosiologi di Indonesia perlu dirubah. Kalau di Zaman Orde Baru sukar untuk menganalisa secara terbuka gejala stratifikasi sosial dan konflik antara Klas, sekarang sudah lebih bisa diterima, karena memang gejalanya sudah ada sejak zaman penjajahan sekalipun.
Struktur feodal memang berlapis-lapis dan eksploatasi jelas sudah ada. Jadi perlu reorientasi sosiologi untuk banyak ilmuwan Sosiologi dan cedekiawan yang memperhatikan perkembangan kebudayaan karena keadaan sudah berubah. Tantangan bukan hanya ada di dalam negeri, tetapi sekaligus juga dalam hubungan kita dengan negara dan bangsa, bukan saja yang geografis menjadi tetangga kita, tetapi juga dengan negara-negara sebenua, bahkan di benua lain.
Satuan pelaku sosial bukan saja lagi “nation state” tetapi komunitas negara atau bangsa yang sudah melintasi batas nation-state. Mazhab-mazhab agama menjadi salah satu ilustrasi jelas, tetapi juga “pendukung pelestarian alam dan lingkungan, serta perjuangan untuk “Hak Azasi Manusia” dan “Gender” dapat segera difahami sebagai komunitas besar yang menjadi ciri pengelompokan Global. Sosiologi tidak dapat lagi bertahan dengan membatasi diri dengan mempelajari “residual social elements seperti pernah digagas oleh cendekiawan Prancis Saint Simon di awal abad ke-19.
Inilah sebabnya mengapa perlu ada reorientasi Sosiologi di Indonesia; bukan ekonomi lagi yang akan bertahan sebagai “The Queen of The Social Sciences”, tetapi sosiologi yang mengulur tangan kepada cabang-cabang ilmu Sosial lain dan Humaniora untuk menganalisa dan memecahkan masalah kemasyarakatan secara terpadu

Penggunaan Media dalam Penerapan Teori Sosiologi
R. Kristiawan sangat benar ketika mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengerti interdependensi (bukan dependensi!) kultural antara dunia Barat dan dunia Timur maupun antara dunia Utara dan Selatan. Proses globalisasi itu memang jauh lebih kompleks.
Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunanisme, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller).
Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama , proses diferensiasi di dunia ketiga sendiri, terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara berkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia, justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann 1996). Kedua , teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan dengan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial, struktur patrimonial dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes, 1995). Ketiga , teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi yang bermanfaat dalam konteks global (ibid). Keempat , referensi historis yang mengarah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat problematis. Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya, yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat, sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang, dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat.
Bahkan James D. Halloran, salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu, berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung justru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. Lalu dia bertanya, apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran, 1998). Saya pikir, tidak. Apa gunanya?
Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sangat positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kritis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman seperti modernisme, dependensi dan hegemoni. Dengan demikian, tanggung jawab atas segala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju.
Saya sangat setuju dengan yang ditulis R. Kristiawan bahwa media massa tidak merupakan 'alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan' ( KUNCI 8, 2000). Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari masyarakat. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dikembangkan di Jerman, fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masyarakat (Marcinkowski 1993). Fungsi media massa sebenarnya bukan 'merekonstruksikan realitas sosial', sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar, pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). Dengan kata lain, media massa merupakan cermin kebaikan dan keburukan masyarakat, bukan mencerminkan (dalam arti meng- copy ) keadaan masyarakat. Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat.
Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya, kenapa pemberitaan di media massa begitu parah? Menurut Niklas Luhmann, sosiolog Jerman, seharusnya kita bertanya, seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media seperti itu? (Luhmann, 1996)
Dalam konteks ini, maka tidak sepenuhnya kita harus setuju dengan pengertian Nuraini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI . Dalam tulisannya "Majalah HAI dan 'Boyish Culture'" ( KUNCI 8, 2000) ia hendak menjawab pertanyaan "bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosial itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa".
Pertama , pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. Akhirnya, bagaimana sistem itu sebenarnya beroperasi? Kedua , pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengandung dua premis pernyataan yang belum terbukti, yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap publik.
Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media massa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan kuasa (Ang 1999) dan mengandung bahaya hegemoni Barat (Hepp 1999). Walaupun demikian, suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam menganalisis proses penyampaian pesan media (Kellner 1999).
Demikian juga pakar-pakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosial pasca-Talcott Parsons. Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dipandang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. Artinya, khalayak juga aktif dalam proses tersebut. Publik tidak tinggal diam dan menerima pesan-pesan media massa begitu saja, melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. Sebaliknya, media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pada umumnya.
Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak memuaskan itu, seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal ( the truth out there ), dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. Akan tetapi, apa yang kita alami sebagai realitas itu hanya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan pengamatan atas realitas. Tentunya, 'kenyataan' Anda berbeda dengan 'kenyataan' saya walaupun kita mengamati realitas murni. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan yang dipakai tidak sama (Luhmann 1990).
Dengan demikian muncul pertanyaan, apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menuntut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebenaran. Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya.
Walaupun demikian, kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkritik media massa. Akan tetapi, bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan normatif dalam analisis media, maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umumnya akan berada dalam posisi yang lemah. Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. Melainkan bertanya, faktor-faktor apa yang memungkinkan penampakan media yang kurang memuaskan.

Referensi
• Abrar, Ana Nadhya (1997): Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan , Jakarta.
• Ang, Ien (1999): "Kultur und Kommunikation, Auf dem Weg zu einer ethnographischen Kritik des Medienkonsums in transnationalen Mediensystemen", in: Roger Bromley/Udo Göttlich/Carsten Winter (eds.): Cultural Studies, Grundlagentexte zur Einführung , Lüneburg, 317-340.
• Cardoso, Fernando Henrique/Enzo Falletto (1979): Dependency and Development in Latin America , Berkeley.
• Galtung, Johan (1971): "A Structural Theory of Imperialism", in: JOURNAL OF PEACE RESEARCH 8(1971)2, 81-117.
• Halloran, James D. (1998): "Social Science, Communication Research and the Third World", in: MEDIA DEVELOPMENT (1998)2, 43-46.
• Hepp, Andreas (1999): Cultural Studies und Medienanalyse, Eine Einführung, Opladen.
• Kellner, Douglas (1999): "Medien- und Kommunikationsforschung von Cultural Studies, Wider ihre Trennung", in: Roger Bromley/Udo Göttlich/Carsten Winter (eds.): Cultural Studies, Grundlagentexte zur Einführung , Lüneburg, 341-363.
• Luhmann, Niklas (1990): Soziologische Aufklärung 5, Konstruktivistische Perspektiven, Opladen. Luhmann, Niklas (1996): Die Realität der Massenmedien, Opladen.
• Frank Marcinkowski (1993): Publizistik als autopoietisches System, Politik und Massenmedien, Eine systemtheoretische Analyse, Opladen.
• Talcott Parsons (1964[1951]): The Social System , New York/London. Schiller, Herbert (1969): Mass Communication and American Empire , New York.

GEORG SIMMEL BAPAK SOSIOLOGI INTERAKSIONIS YANG TIDAK DIKENAL

GEORG Simmel lahir di Berlin pada tahun 1858. Dia memiliki ayah seorang pedagang yang yahudi yang kaya, yang kemudian masuk agama kristen, dan meinggl ketika Georg masih ssngat kecil. Hubungan dengan ibunya tidak terlalu dekat.setelah kematian ayahnya dia diasuh oleh teman keluaranya, dan peninggalan kekayaan pengasuhnya membuatnya bertahan dalam gaya hidup borjuis. Walau sepanjang kariernya dia tak pernah memperoleh uang. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu di Universitas Berlin. Sebagai upaya pertamanya untuk menyusun disertasi ditolak dan salah seorang profesornya pernah mengatkan “kami akan banyak membantu jika tak mendorongnya ke arah ini” (Frisby 1984;23).
Meski usaha pertamanya ditolak dia tetap mempertahankan disertasinya, dan memperoleh gelar doktor filsafat di tahun 1881. Dan mulai tahun 1885 dia mengajar disana. Dan muali tahun 1900 dia hanya menjadi “dosen privat” dan dia juga menjadi dosen yang tak digaji yang kehidupan ekonominya tergantung pada mahasiswanya. Dia merupakan dosen yang cemerlang , peka, dan pegetahuannya sangat dalam di pelbagai hal. Hal itu juga yang membuat kuliahnya sangat berhasil banyak yang membayar dan penggemar, karena gaya mengajar yang populer menjadikan banyk kaum elite intelektual menghadiri kuliahnya. Kemudian dia mendapat gelar “Profesor Luar Biasa”, disana. Namun gelar itu hanyalah gelar kehormatan belaka tanpa kompensasi apapun.
Di tahun 1914 dia meniggalkan universitas Berlin untuk menerima gelar profesor penuh di Universitas Strasbourg. Namun malang kehidupan akademisnya yang tersedak oleh perang waktu itu. Kurangnya pengakuan profesionalnya secara resmi tak mengurangi kesenangannya dalam mengajar, yang melahirkan banyak pengagum. Bersama Tonnies dan Weber dia berharap mendirikan perkumpulan German society for Sociology. Weber mengusahakan agar Simmel dipromosikan lebih cepat namun tidak berhasil. Simmel tentu bukan berada diluar lingkungan akademis seperti halnya Comte pada awal abad itu. Namun statusnya berifat marginal. Ada beberapa alasan untuk itu yang salah satunya mengacu pada darah yhudi Simmel, menurut Coser dan Spykmann. Keterpinggiran Simmel paralel dengan fakta Simmel agak kontradiktif dan sebagai pribadi yang membingungkan.
Jika kita kumpulkan keterangan dari teman mahasiswanya di masa itu, kita akan menemukan indikasi mengenai Simmel yang kadang-kadang saling bertentangan. Ada yang melukiskannya sebagai seorang yang tinggi dan ramping, orang lain melukiskannya sebagai seorang yang pendek dan berpenampilan sedih. Dilaporkan penampilannya tak menarik, khas yahudi, tetapi juga sangat cerdas dan ningrat. Dilaporkan pula ia pekerja keras, humoris, dan sangat pandai bicara. Terdengar pula ia sangat pintar (Lukacs, 1991:145), ramah, rapi, tetapi iapun irrasional, kusam dan sembrono (Schnabel, dikutip dalam Poggi, 1993:55).
Semasa dia hidup , Berlin merupakan suatu pusat penting untuk perkembangan berbagai aliran intelektual. Perkembangan intelektual Simmel pasti sangat berhubungan dengan kenyataan bahwa selama hidupnya dia menghadapi aliran-aliran tersebut dan posisi marginalnya memungkinkan puntuk memilih tanpa memihak. Latar belakang Simmel yang kekotaan itu serta status akademisnya pasti yang memberikan kepekaan akan hal-hal halus dan tidak kentara dalam proses sosial yang tercermin dalam tulisannya.
Ia menulis banyak artikel dan bukunya sebagai penyumbang berdirinya sosiologi The Philosophy of Money setelah pecah Perang Dunia 1, perjalanan karier di Strasbourg harus dihentikan karena tempat kuliahnya dijadikan rumah sakit militer dan mahasiswa saat itu ikut beperang. Demikianlah Simmel yang tetap menjadi tokoh marginal di dunia akademis Jerman hingga kematiannya di tahun 1918, dia tak pernah mendapat karier akademis yang normal. Bagaimanapu juga Simmel menatik sejumlah besar mahasiswa di zamannya dan kemasyurannya sebagai seorang sarjana terpelihara bertahun-tahun.

Entri Populer