Realita

Sabtu, 05 Februari 2011

RESUME MATERI KULIAH
METODE PENELITIAN KUALITATIF


FILSAFAT PENELITIAN KUALITATIF

A. PENDEKATAN KUALITATIF
Berdasarkan sejarah sosial, pendekatan kualitatif dibangun berdasarkan tradisi pemikiran Jerman yang lebih banyak mengadopsi pemikiran filsafat Plato yang humanistis. Sebagaimana diketahui bahwa pandangan Plato terhadap manusia lebih banyak menempatkan manusia sebagai makhluk yang humanistis daripada manusia sebagai homo sapiens. Karena itu Plato memandang manusia sebagai manusia, bahkan Plato terlebih melihat manusia dipengaruhi oleh rasionya, karena itu manusia memiliki idealisme. Tradisi pemikiran Jerman yang Platonik, humanistis, idealistis ini mengilhami pemikiran Kant maupun Hegel tentang dunia ide yang kemudian melahirkan (menjadi akar tradisi) paradigma fenomenologi dalam penelitian sosial yang dikenal dengan paradigma penelitian kualitatif, di mana paradigma ini berseberangan (berhadapan) dengan tradisi pemikiran Inggris dan Perancis yang positivistik.

B. EMPIRISME
PENDEKATAN KUALITATIF
Upaya pendekatan kualitatif memecahkan misteri makna berdasarkan pada pengalaman peneliti dan objek kajiannya.
Pendekatan kualitatif memandang bahwa makna adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman seseorang dalam kehidupan sosialnya bersama orang lain.
Makna bukan sesuatu yang lahir di luar pengalaman objek penelitian atau peneliti, akan tetapai menjadi bagian terbesar dari kehidupan penelitian ataupun objek penelitian.

C. LAHIRNYA POSTPOSITIVISME
secara ontologis, postpositivisme bersifat criticial realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi suatu hal yang mustahil apabila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti);
secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidak cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation, yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti, dan teori;
secara epistimologis, hubungan antara pengamat atau peneliti dengan objek atau realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan, seperti yang diusulkan oleh aliran positivisme.

D. FENOMENA :
PENELITIAN KUALITATIF
Fenomena yang terjadi dalam penelitian membutuhkan proses-proses mental peneliti untuk memaknakannya, dengan demikian pandangan-pandangan Hegel tentang idealisme mempengaruhi peneliti-peneliti kualitatif dan ikut mengkonstruksi hasil-hasil penelitian.

E. KRITISME :
PENELITIAN KUALITATIF
Peneliti kualitatif adalah peneliti yang memiliki tingkat kritisme yang lebih dalam semua proses penelitian.
Kekuatan kritisme peneliti menjadi senjata utama menjalankan semua proses penelitian.
Pandangan-pandangan Kant bahwa kritisme adalah buah kerja rasional dan empiris seseorang, akan sangat membantu peneliti kualitatif membuka seluas-luasnya medan misteri.
Filsafat kritisme menjadi dasar yang kuat dan dalam seluruh proses penelitian kualitatif.

F. LAHIRNYA PENDEKATAN KUALITIF
Penelitian sebagai sistem ilmu pengetahuan, memainkan peran penting dalam bangunan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Penelitian menempatkan posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan melindunginya dari kepunahan.
Penelitian memiliki kemampuan untuk meng-upgrade ilmu pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan menjadi lebih up to date, canggih, aplicated, serta setiap saat aksiologis bagi masyarakat.
Tahapan penelitian kualitatif melampaui berbagai tahapan berpikir kritis-ilmiah, yang mana seorang peneliti memulai berpikir secara induktif, yaitu menangkap berbagai fakta atau fenomena-fenomena sosial, melalui pengamatan di lapangan, kemudian menganalisisnya dan kemudian berupaya melakukan teorisasi berdasarkan apa yang diamati itu.

G. BERPIKIR INDUKTIF
Peneliti diarahkan oleh produk berpikir induktif untuk menemukan jawaban logis terhadap apa yang sedang menjadi pusat perhatian dalam penelitian, dan akhirnya produk berpikir induktif menjadi jawaban sementara terhadap apa yang dipertanyakan dalam penelitian dan menjadi perhatian itu, jawaban tersebut dinamakan dengan berpikir induktif-analitis.

H. PENELITIAN :
PENCARIAN KEBENARAN














I. YANG DIBUTUHKAN PENELITI
• Objektif, faktual : memiliki sikap objektif dan peneliti memulai pembicaraannya berdasarkan fakta.
• Open, fair, responsible bersikap terbuka terhadap berbagai saran, kritik, dan bersikap wajar, jujur dalam pekerjaannya, serta dapat mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya secara ilmiah.
• Curious, wanting to know, memiliki sikap ingin tahu terutama kepada apa yang diteliti dan senantiasa haus akan pengetahuan-pengetahuan baru, peka terhadap informasi dan data.
• Interview always, memiliki daya cipta, kreatif, dan senang terhadap inovasi.
• Think, critically, systematically, yaitu peneliti adalah orang memiliki wawasan, mempunyai kemampuan kritis, dan dapat berpikir sistematis.
• Able to create, innovate, yaitu peneliti harus memiliki kemmapuan mencipta karena harus selalu menemukan atau membuat penemuan-penemuan baru.
• Communicate affectivity, yaitu peneliti harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan mempengaruhi pihak lain dengan komunikasi itu.
• Able to identify and formulate problem clearly, yaitu mampu mengenal dan merumuskan dengan jelas.
• View a problem with a wider context, yaitu mampu melihat suatu masalah dalam konteks yang luas karena suatu masalah biasanya tidak berdiri sendiri.

Entri Populer